Home » Uncategorized » Bincang Sosiologi: Tipe-Tipe Kepribadian

Bincang Sosiologi: Tipe-Tipe Kepribadian

Halo! oichidan disini.

Dalam sebuah posting yang diterbitkan oleh akun resmi LINE@ Bincang Sosiologi, mereka membahas tentang tipe-tipe kepribadian dan penyimpangan sosial. Di akhir posting yang diterbitkan, terdapat beberapa pertanyaan menarik yang dilontarkan oleh penulis posting sebagai media untuk memancing materi untuk bahan diskusi.

Posting tersebut dapat dilihat di sini.

Berikut beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh penulis posting dan jawaban yang saya berikan.

Apa yang kamu tau tentang ekstrovert, introvert, ambivert?

Hal yang menjadikan pembeda antara ketiga kepribadian ini adalah respon mereka terhadap stimulus yang diberikan dari lingkungan sekitar. Extrovert adalah tipe kepribadian yang justru akan terangsang, akan tergugah dengan diberikannya stimulus dari lingkungan, baik berupa interaksi sosial maupun situasi sosial. Introvert adalah tipe kepribadian yang justru akan cepat merasa lelah dengan interaksi dan situasi sosial–rangsangan dari luar. Kekuatan introvert berasal dari dalam, sementara extrovert berasal dari luar. Ambivert kurang lebih bertempat di antara keduanya.

Hal ini berarti, sangat tidak berdasar jika ada yang menganggap introvert adalah kaum penyendiri, kaum yang memisahkan diri, kaum yang tidak bisa berinteraksi sosial. Anggapan seperti itu dibuat tanpa dasar-dasar ilmiah dan penelitian yang afsah. Introvert dan extrovert semuanya makhluk sosial, sesuai dengan kodrat manusia, hanya yang membedakan adalah seberapa sering mereka berinteraksi dan seberapa intens mereka melakukannya. Extrovert mungkin akan lebih sering karena mereka memperoleh rangsangan dan stimulus dari interaksi sosial, sehingga mereka terkesan lebih supel dan lebih akrab. Introvert, di sisi lain, mungkin tidak se-sering Extrovert karena mereka lelah dengan interaksi sosial, tapi bukan berarti mereka tidak bisa. Ciri khas Introvert adalah saat mereka berinteraksi dengan seseorang, jumlahnya sedikit, tapi akrabnya biasanya sangat dalam sementara extrovert khas dengan jaringan sosialnya yang luas dan mawas dengan semua orang.

Setujukah kamu dengan pelabelan kepribadian tersebut?

Well, kenapa tidak? Bukankah selama ini di jurusan kita sendiri saja kaum extrovert begitu dibanggakan karena dianggap sangat sosial, dan intro-ambivert selalu dicibir karena dianggap tidak bisa bersosialisasi? Mereka yang berani mengatakan hal-hal seperti itu berarti sangat tidak mencerminkan karakter seorang sosiolog yang senang akan adanya fenomena dan senang beradaptasi dengan perbedaan.

Pelabelan itu, di satu sisi, baik. Kenapa? Karena hal tersebut memberikan berbagai rangsangan terhadap kaum yang dicibirkan agar mereka (dan kami, introvert) membuktikan diri bahwa mereka yang memberikan label salah, sehingga daya saing setiap orang meningkat.

Saya sendiri senang dengan adanya pelabelan seperti ini. Hal ini memacu saya untuk terus belajar untuk membuktikan bahwa pelabelan terhadap introvert yang diberikan sedemikian buruknya adalah sebuah kesalahan yang sangat tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Termasuk manakah kamu? mahluk individu atau mahluk sosial? Bisakah manusia menjadi mahluk individu sekaligus sosial?

Ini pertanyaan paling lucu yang pernah saya temui di Sosiologi. Bisakah seorang manusia menjadi makhluk individu -tapi bukan- makhluk sosial? Atau bisakah seorang manusia menjadi makhluk sosial -tapi bukan- makhluk individu? Justru pada kodratnya manusia adalah makhluk individu -dan- makhluk sosial.

Jika anda menganggap manusia sebagai makhluk individu berarti makhluk yang penyendiri dan memisahkan diri dari semua orang, anda salah besar. Stereotip-stereotip bodoh inilah yang membuat para introvert memisahkan diri dari semua orang: karena mereka lelah menghadapi orang-orang yang ngeyel dan gabisa dikasihtau. Pada hakikatnya, manusia sebagai makhluk individu berarti dia berdiri sebagai suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan (in-dividu=in-divideable=tidak bisa dipisahkan), sebagai suatu kesatuan organik, mental dan spiritual yang membentuk jati diri seorang manusia. Saat bicara manusia sebagai makhluk individu, salah besar jika kita bicara tentang sikap penyendiri (khas dimiliki kaum asosial). Kita bicara tentang manusia sebagai seorang individu, apa itu kebutuhan psikologinya, apa itu kebutuhan biologisna…

Saat kita bicara manusia sebagai makhluk sosial, kita bicara tentang manusia sebagai suatu kesatuan dalam suatu ruang lingkup kelingkungan sosial. Kita bicara tentang manusia dalam kaitannya memenuhi kebutuhan hidupnya: tidak bisa sendirian. Manusia perlu manusia lain, bekerja sama dalam melangsungkan hidupnya. Jadi tidak ada “manusia sebagai makhluk individu tapi bukan makhluk sosial” atau sebaliknya, itu sebuah konsep yang salah.

Intinya, jelas-jelas seorang manusia itu bukan “bisa menjadi makhluk individu sekaligus sosial”, tapi pada hakikatnya manusia itu “makhluk individu -dan- makhluk sosial”. Itu sudah kodrat yang diberikan Tuhan. Saat anda bertanya apakah saya termasuk makhluk individu atau makhluk sosial, saya tidak bisa menjawab, karena saya -bukan- makhluk individu *atau* makhluk sosial, tapi saya adalah makhluk individu *dan* makhluk sosial.

Contohkan dari kasus di sekitarmu tentang konformitas dan penyimpangan sosial!

Bagi masyarakat Sunda, makan dengan tangan kiri adalah suatu hal yang dianggap menyimpang karena dianggap tidak sopan. Tapi bagi masyarakat lain, justru makan itu harus dengan tangan kiri (aku lupa nama sukunya) karena tangan kanan dianggap tidak sopan.

Dunia ini membutuhkan keseimbangan. Maka haruslah ada nilai yang menaunginya. Menurut mu apakah kehidupan sosial ini bisa bebas dari segala penyimpangan sosial?

Sebuah masyarakat yang bebas dari penyimpangan sosial adalah masyarakat yang sedang berada di ujung tombak kehidupannya, karena yang akan mereka hadapi adalah kehancuran yang dahsyat maupun perlahan. Hal yang serupa terjadi apabila masyarakat tidak mempunyai sistem pengendalian sosial, hancur sudah. Keseimbangan itu jelas terjadi, dan dibutuhkan oleh dunia, dan nilai-nilai yang dianut akan menjadi alat untuk melakukan pengendalian sosial. Jangan lupa, tapi, bahwa nilai itu juga digunakan oleh para penyimpang sosial untuk dilanggar. Tanpa ada nilai yang dilanggar tidak akan ada penyimpangan sosial.

Maka, “keseimbangan” itu adalah saat terjadi penyimpangan dan terdapat pegendalian. Tidak terjadi keseimbangan itu hal yang tidak baik, dan tidak ada pengendalian juga sama. Bisa juga keseimbangan itu saat “tidak terjadi keduanya”.

Bisa saja suatu masyarakat bebas dari penyimpangan sosial, tapi itu tadi.
Kondisi yang memungkinkan masyarakat tersebut seperti demikian hanya ada tiga: (1) Nilai sosial sudah tidak ada, karena jika tidak ada nilai, tidak ada hal yang dianggap menyimpang sehingga masyarakat “bebas” dari penyimpangan sosial; (2) Pengendalian sosial sudah tidak ada, karena jika tidak ada pengendalian maka penyimpangan lambat laun akan diterima oleh masyarakat; dan (3) Pengendalian sosial berjalan dengan sangat baik, sehingga tidak memungkinkan terjadinya penyimpangan, dan jika salah satu dari tiga hal ini terjadi, maka masyarakat akan menghadapi sebuah kehancuran.


Leave a comment